7 Manfaat Beribadah Umroh di Usia Muda

7 Manfaat Beribadah Umroh di Usia Muda

7 Manfaat Beribadah Umroh di Usia Muda – Kegiatan umroh tidak hanya dilakukan untuk orang tua,tetapi untuk anak muda juga boleh melakukanya. Malah banyak manfaatnya kalau kita melakukan umroh di usia muda. Dari pada kita bermain main ke eropa ke china maupun ke negara manapun, lebih baik kita melakukan ibadah dan pergi ke tanah suci . kami akan memaparkan 7 Manfaat Beribadah Umroh di Usia Muda :

  1. Mengasah Jiwa Petualang

Kata orang jiwa muda adalah jiwa petualang. Tak jarang mereka yang masih berusia muda ingin merasakan sensasi umroh murah tanpa travel agent atau popular dengan isujhtilah umroh backpacker. Jika mesti menuruti prosedur standar, beribadah umroh dari Indonesia mestilah melewati travel agent atau Biro Umroh resmi yang mendapatkan izin di Kementrian Agama.

Hal ini diakibatkan karena visa umroh tidak dapat didaftarkan secara perseorangan. Tapi Anda  bisa mengatur sendiri penggunaan tiket pesawat dan akomodasi hotel selama di tanah suci (beberapa jamaah malah memanfaatkan pelataran masjid sebagai tmpat beristirahat). Banyak jalan menuju tanah suci, sekaligus mengembangkan semangat jiwa petualang yang positif. Lebih baik lagi apabila pesawat Anda transit di negara ketiga, yang merupakan bandara asal maskapai tersebut. Selain harga tiket yang murah, anda pun bisa menikmati extra jalan – jalan berpetualang

Untuk mempermudah perjalanan dan menghemat ongkos transportasi lokal, pilihlah penerbangan yang bandara ketibaannya sangat dekat dengan Mekkah (karena di Mekkah tidak terdapat bandara). Bandara ini juga dapat dijadikan lokasi Miqat atau tempat menyimak niat umroh dan mengawali ihram. Untuk menuju ke Mekkah Anda dapat menggunakan sarana transportasi umum seperti taxi atau bus Saptco dengan ongkos cukup dengan 30 riyal.

  1. Mimiliki Kemampuan Fisik Yang Fit Dan Prima

Selain memanjaatkan do’a dan keinginan kita di “rumah” Sang Maha Pencipta, Hampir 70 % dari kegiatan ibadah umroh memerlukan kegiatan fisik. Melakukan Ibadah umroh membutuhkan kemampuan fisik yang fit dan prima. Karena disana kita akan melakukan aktifitas aktifitas yang padat dan yang pasti sangat menguras tenaga. Misalnya kita thawaf mengelilingi kakbah bersamaan dengan jemaah-jemaah lain yang badannya tegap dan kekar, melakukan lari-lari kecil di dari safa ke marwa, itu akan sangat-sangat  menguras tenaga kita.

Baca Juga : Hukum Anak Kecil Menunaikan Umrah

Jadi kita harus mempunyai tenaga ekstra. Pada saat mengelilingi kakbah itu berdesak-desakan  dengan tidak jarang dihadapkan pada cuaca sangat panas maupun dingin yang ekstreem. Sehingga banyak jamaah umroh yang sudah berumur sering merasa kelelahan. Kalau kita umroh di usia muda kan tenaga kita masih fit prima. Insya Allah pelaksanaan Beribadah Umroh di Usia Muda pun akan lebih maksimal

  1. Memberi Pengalaman Hidup Dan Ilmu Keagamaan

Sepulang dari tanah suci  membuat diri kita banyak mendapatkan pengalaman dan ilmu yang berguna untuk diri  kita maupun untuk orang lain. Dan memberikan memberikan pengaruh positif untuk orang lain, serta dalam menjalankan kehidupan sehari hari kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik

Setiap jamaah umroh yang pulang dari tanah suci akan membawa “oleh – oleh” berupa kisah perjalanan yang Insya Allah dapat menginsprasi dan memotivasi orang lain untuk turut beribadah kesana.

  1. Menyumbangkan Tenaga Kita Pada Saat Kita Berada Di Tanah Suci

Di saat kita melakukan ibadah umroh di tanah suci dengan biro umrah, pasti dalam rombongan yang beribadah umroh bukan hanya anak muda, namun juga banyak  anak dan orang tua pun juga bayak yang melakukan umroh dalam satu rombongan.

Baca Juga : Bagaimana jika anak kecil ikut melaksanakan Umrah?

Di sinilah kita bisa membantu anak dan orang tua di saat meraka mengalami kesulitan saat berada di tanah suci  dalam bidang apapun. Misal di saat mengelilingi ka’bah banyak orang tua yang tidak kuat jadi kita bisa membantunya dengan menuntunnya, atau bentuk bantuan lain. Tentu saja ini akan menambah pahala amal ibadah kita saat beribadah umroh

  1. Melihat Orang Orang Yang Sangat Taat Terhadap Agama Islam

Soal kataqwaan memang itu tidak dapat dinilai dari sisi luar saja, namun setidaknya di Tanah Haram kamu akan disuguhi pemandangan orang – orang yang taat beribadah dari berbagai penjuru dunia. Terkadang mereka bedoa sampai menitikkan air mata, seraya “curhat” tentang segala permasalahan dan permohonan. Pada titik inilah kita berada sangat dekat dengan Allah SWT. Mereka berdo’a di depan Ka’bah, namun yang pasti mereka tidak menyembah ka’bah

Di tanah suci juga kamu akan melihat orang-orang arab saudi yang sangat disiplin dalam hal ibadah. Saat adzan berkumandang mereka akan segera menutup toko – toko mereka dan segera pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Hal ini kita dapat mencontoh dari sikap mereka yang mendahulukan pelaksanaan ibadah daripada beraktifitas lainya. Bahkan Mall pun dijadikan tempat sholat. Sebuah pemandangan yang sangat langka

  1. Memohon Jodoh Dan Memohon Masa Depan Yang Cerah

Salah satu hajat keinginan yang banyak diutarakan oleh jamaah umroh yang berusia muda dan masih jomblo adalaj keinginan kuat untuk Memohon Jodoh dan Memohon Masa Depan yang cerah. Namun perlu diingat. Dimana tempat yang merupakan pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa disebut tempat meminta jodoh. Bahkan tak jarang para jamaah haji dan umroh seringkali mencoret – coret tugu jabal rahmah dengan nama mereka. Sangat di sayangkan dan sebuah tindakan bodoh yang malah merusak makna dari ibadah umroh sendiri

Jika kita ingin berdo’a Memohon Jodoh dan Memohon Masa Depan yang cerah menurut beberapa hadist bukan di Jabal Rahmah tempatnya. Namun tempat mustajab yang paling utama itu bernama Multazam disamping di hijir Ismail dan dibelakang Maqam Ibrahim. Dengan berdoa di ka’bah dan masjidil Haram InsyaAlah akan mengabulkan doa doa kita. Kita bisa memohon agar kita segera diberikan jodoh yang solih atau soleha. Dan yang pasti bisa mempunyai masa depan yang cerah. Amiin

  1. Perubahan Hidup Yang Positif Yang Akan Dialami Sepulang Umroh

Sepulang dari tanah suci teman-teman akan mengalami  perubahan positif  atas izin allah swt. Dan kita juga akan lebih memanfaatkan hidup kita ini untuk beribadah. Dan yang pasti kita akan meninggalkan hal- hal yang buruk yang dahulu pernah kita lakukan sebelum kita pergi ke tanah suci.

Selagi umur kita masih muda, mumpuni secara fisik dan mental termasuk finansial ayo teman-teman pergilah ke tanah suci untuk mendekatkan diri kepada allah SWT. Janganlah kamu menyia-nyiakan waktu  untuk beribadah. Karena Allah akan melipatgandakan rezeki kita jika kita berangkat ke tanah suci dengan hati yang tulus, ikhlas dan semata mata karena Allah SWT.

Semoga artikel 7 Manfaat Beribadah Umroh di Usia Muda ini bisa bermanfaat bagi anda

umrah atau haji dulu? manakah yang lebih penting?

umrah atau haji dulu? manakah yang lebih penting?

umrah atau haji dulu? manakah yang lebih penting? – Umroh atau haji dulu? Manakah yang harus diprioritaskan? Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya cukup mudah, dari kedua kewajiban bagi umat muslim tersebut maka haji dululah yang harus didahulukan. Tapi beberapa dari kita umat muslim mungkin tidak mengetahui mengapa kita harus memprioritaskan ibadah naik haji di atas umrah

Sebenarnya hal ini sendiri telah dibahas di ayat suci al quran tepatnya di surat Ali Imran ayat 97 yang berisi kurang lebih bahwa mengerjakan haji merupakan kewajiban bagi umat manusia terhadap Allah terutama bagi manusia yang sanggup untuk melakukan ibadah haji ke baitulah dan barang siapa yang mengingkarinya meskipun mampu maka Allah maha kaya.

Dari petikan firman surat Ali Imran ayat 97 di atas maka bisa diambil kesimpulan atau pengertian bahwa ibadah haji merupakan prioritas utama bagi umat muslim yang mampu untuk mengerjakannya. Tentunya umat muslim tersebut harus mampu secara mental, fisik dan juga keuangan.

Lalu bagaimanakah dengan ibadah umroh sendiri? Apakah wajib untuk kita lakukan? Ibadah umroh tentunya juga sangat  wajib untuk kita lakukan karena merupakan apalagi apabila kita mampu untuk melaksanakannya. Terutama pada zaman sekarang ini pada saat ibadah haji masih menunggu antrian untuk bisa melakukan ibadah haji maka umat muslim bisa melakukan umroh terlebih dahulu. Ya benar sekali dalam beberapa kondisi pilihan umroh atau haji dulu, kita bisa mendahulukan umroh.

Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena proses untuk menunaikan ibadah haji tidak bisa kita lakukan dengan mudah ada beberapa persyaratan dan kuota bagi orang yang ingin melakukan ibadah haji. Sebagai contohnya adalah saat ini kuota untuk melakukan ibadah haji di Indonesia pertahunnya adalah 240.000 orang pertahun sedangkan jumlah orang yang mendaftar atau calon haji di Indonesia sendiri mencapai kurang lebih 1,5 juta jiwa.

Tentunya untuk menunggu antrian tersebut waktunya cukup lama bahkan bisa mencapai bertahun tahun oleh karena itu bagi umat muslim yang mampu bisa melaksanakan umroh dahulu sambil menunggu giliran menunaikan ibadah haji. Jadi bisa dibilang pertanyaan mengenai umroh atau haji dulu jawabannya cukup fleksibel yang tentunya tergantung pada situasi dan kondisi orang dan negara orang tersebut.

Apabila saudara berencana untuk melakukan ibadah umroh terlebih dahulu maka ada beberapa keuntungan yang bisa anda raih. Pertama tama anda bisa mendapatkan gambaran mengenai situasi di tanah suci. Kedua apabila suatu saat ternyata usia dan takdir tidak memberikan kesempatan bagi anda melakukan ibadah suci naik haji maka paling tidak anda sudah melaksanakan umroh. Bisa dibilang lebih baik sudah menjalankan umrah daripada tidak sama sekali. Akan tetapi perlu diingat apabila ada dua pilihan umroh atau haji dulu dan kedua kesempatan itu datang pada anda dimana anda bisa melakukan keduanya maka pilihlah haji terlebih dahulu karena itulah salah satu kewajiban dari umat muslim.

semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi anda, terimaksih

Apakah Umrah Gugurkan Kewajiban Haji?

Apakah Umrah Gugurkan Kewajiban Haji?

Apakah Umrah Gugurkan Kewajiban Haji? – Para ahli ulama sendiri berbeda pendapat mengenai status hukum umrah. Menurut madzhab maliki dan mayoritas ulama dari kalangan madzhab hanafi menyatakan bahwa umrah hukumnya adalah sunah mu`akkadah, sekali seumur hidup. Tetapi menurut sebagian ulama lain dari kalangan madzhab hanafi hukumnya wajib, sekali seumur hidup.

ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَأَكْثَرُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى أَنَّ الْعُمْرَةَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي الْعُمُرِ مَرَّةً وَاحِدَةً وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى أَنَّهَا وَاجِبَةٌ فِي الْعُمُرِ مَرَّةً وَاحِدَةً عَلَى اصْطِلاَحِ الْحَنَفِيَّةِ فِي الْوَاجِبِ.

“Para ulama dari kalangan madzhab maliki dan mayoritas ulama dari kalangan madzhab hanafi berpendapat bahwa hukum umrah itu sunah mu`akkadah, sekali seumur hidup. Sedangkan sebagian ulama dari kalangan madzhab hanafi menyatakan hukumnya adalah wajib, sekali dalam seumur hidup, dan wajib di sini adalah dalam pengertian madzhab hanafi”. (Lihat, Wizarah al-Awqaf was Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, cet ke-1, Mesir-Dar ash-Shafwah, juz, XXX, h. 315)

Madzhab hanafi membedakan antara hukum fardlu dan wajib. Menurut mereka fardlu adalah sesuatu yang ditetapkan dengan dasar dalil yang qath’i, seperti Al-Quran, hadits mutawatir dan ijma`. Sedang wajib adalah sesutu yang ditetapkan dengan dasar dalil zhanni, seperti dengan khabar ahad.

وَقَالَتِ الْحَنَفِيَّةُ: اَلْفَرْضُ مَا ثَبَتَ بِقَطْعِيٍّ وَالْوَاجِبُ بِظَنِّيٍّ

“Madzhab hanafi berpendapat bahwa fardlu adalah sesuatu yang ditetapkan berdasarkan dalil yang qath’i, sedang wajib adalah sesuatu yang ditetapkan berdasarkan dalil yang zhanni.” (Lihat, Al-Asnawi, Nihayatus Sul Syarhu Minhajil Wushul, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1420 H/1999 M, juz, I, h. 38)

Sedangkan menurut pendapat yang azhhar dalam madzhab syafi’i dan menurut madzhab hanbali, hukum umrah adalah wajib sekali dalam seumur hidup. Tetapi imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa umrah tidak wajib bagi penduduk kota Makkah karena rukun umrah yang paling dominan adalah thawaf, sedang mereka terbiasa melakukannya.

“Pendapat yang azhhar dalam madzhab syafi’i, dan merupakan pendapat yang juga dianut madzhab hanbali adalah bahwa umrah itu hukumnya wajib, sekali dalam seumur hidup. Tetapi imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa kewajiban tersebut tidak berlaku bagi penduduk kota Makkah karena sebagian besar rukun umrah adalah thowaf di Ka’bah, sedang mereka biasa melakukannya, maka hal itu sudah mencukupi bagi mereka”. (Lihat, Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, cet ke-1, Mesir-Dar ash-Shafwah, juz, XXX, h. 315)

Kendati para ahli ulama berbeda mengenai status hukum umrah, ada yang mengatakan wajib dan ada yang mengatakan sunnah mu’akkadah, namun umrah tidak dengan serta merta bisa menggugurkan kewajiban haji meskipun pahalanya besar. Umrah bisa dilaksanakan kapan saja, tetapi haji hanya bisa dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ ياأُوْلِي الأَلْبَابِ

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197)

Semoga artikel ini bisa dipahami dengan baik. Bagi kalangan muslim yang hendak menunaikan ibadah umrah maka singkirkan jauh-jauh niat untuk berekreasi, teguhkan niat hanya untuk mencari keridlaan Allah semata.

Benarkah Umrah pada Bulan Ramadan Sama Pahalanya dengan Haji?

Benarkah Umrah pada Bulan Ramadan Sama Pahalanya dengan Haji?

Benarkah Umrah pada Bulan Ramadan Sama Pahalanya dengan Haji? – Ada sebuah hadis yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Fa inna umrata fiihi takdilu khajjah. Artinya adalah umrah di bulan Ramadhan pahalanya seperti ibadah haji. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, khajjata ma’ii. Artinya, (pahalanya seperti) haji bersamaku. Lalu apakah hadis tersebut dianggap sahih oleh kebanyakan ulama? Melansir dari laman Muslim.or.id, hadis tersebut tergolong hadis yang shahihain atau sahih. Sehingga hadis itu dijadikan sebagai keutamaan ibadah umrah pada bulan Ramadhan.

Namun, sebagian ulama juga berpendapat bahwa hadis tersebut eksplisit (khusus) untuk seorang perempuan yang saat itu berbincang dengan Rasulullah saja. Munculnya hadis tersebut dilatarbelakangi saat Rasulullah bertanya kepada seorang perempuan, “Mengapa engkau tidak berhaji bersamaku?”. Perempuan itu menjawab, ia tak berhaji bersama Rasulullah lantaran harus mengurus rumah tangga untuk menggantikan suaminya yang ikut berhaji bersama Rasulullah. Maka kemudian, Rasulullah berkata kepada perempuan itu, “Apabila nanti datang bulan Ramadhan, pergilah umrah. Karena umrah di bulan Ramadhan pahalanya itu sama seperti ibadah haji.”

Dari situlah, pendapat ulama terpecah menjadi dua. Sebagian ulama menganggap bahwa hadis tersebut khusus ditujukan untuk perempuan itu saja. Beberapa ulama bersikukuh bahwa hadis itu berlaku untuk semua orang yang beribadah umrah pada bulan Ramadhan. Kelompok ulama yang tidak sepaham, kemudian mengajukan pertanyaan, bagaimana mungkin pahala ibadah umrah sama seperti haji? Padahal, amalan yang dilakukan haji lebih banyak? Ulama ahli hadis dan ahli fikih menjawab, hadis itu sama seperti hadis Rasulullah tentang keutamaan membaca surat Al-Ikhlas yang sebanding dengan membaca sepertiga Alquran. Padahal, surat Al-Ikhlas hanya terdiri dari empat ayat.

Meskipun Rasulullah selalu berumrah pada bulan Dzulqa’dah, tetapi jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat bahwa umrah pada bulan Ramadan sangat diutamakan jika membicarakan pahala. Sedangkan jika berbicara keutamaan mengikuti kebiasaan Rasulullah, maka umrah pada bulan Dzulqa’dah lebih diutamakan.  Yang pasti, tidak diperbolehkan seseorang membanding-bandingkan dan menghakimi orang lain. Dalam artikel yang ditulis Amrullah Akadintha menyebutkan, Ibnul Qayyim rahimahullahmengatakan jika masalah ini adalah masalah pilihan semata.

Semoga artikel di atas bisa bermanfaat bagi anda, Terimakasih

 

Hukum Anak Kecil Menunaikan Umrah

Hukum Anak Kecil Menunaikan Umrah

Hukum Anak Kecil Menunaikan Umrah – Ketika musim haji,seringkali kita melihat anak kecil ikut mengenakan ikhram sedang di gendong ayahhandanya.Lucu dan menggemaskan,apalgi ketika sedang dipanggul pundak ayah handanya.Ini benar benar menggemaskan bagi stiap orang yang melihatnya.Dasar ank kecil,walaupun mengenakan pakaian ihram,tetap saja maunya bermain main tak terkecuali sedang mengenakan pakaian ihram di pelataran baitullah.

Dalam bahasa Arab, anak kecil dikenal dengan sebutan al-shabiy. Balighnya seseorang itu ditandai dengan ihtilam (bermimpi) bagi laki-laki atau telah berumur kira- kira 15 tahun untuk laki-laki dan haid (9 tahun untuk perempuan). Haji anak kecil adalah ibadah haji yang ditunaikan oleh anak yang belum baligh atau belum dewasa sehingga belum mencukupi salah satu syarat wajib haji. Para ulama sepakat bahwa baligh merupakan salah satu syarat wajib haji. Dengan demikian, seorang anak kecil tidak diwajibkan untuk melaksanakan haji, meskipun dia telah memenuhi syarat-syarat wajib haji lainnya, seperti Islam dan punya kemampuan (istitha’ah).

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Diangkat pembebanan hukum dari tiga kelompok orang, yaitu orang tidur sehingga dia bangun, anak kecil sehingga dia bermimpi, dan orang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).
Para ulama juga ada yang menyatakan bahwa baligh bukan syarat sah haji. Dengan demikian, anak kecil yang menunaikan haji, hajinya sah dan ia serta walinya mendapat pahala dari hajinya tersebut.

Hal ini dijelaskan oleh hadits Nabi Muhammad SAW dari Ibn Abbas, ia menjelaskan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bertemu dengan sekelompok orang. Nabi Muhammad SAW bertanya, “Kaum siapakah ini?” Merekapun menjawab, “Kami kaum Muslim.” Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah engkau?” Rasulullah SAW, menjawab, “Saya Rasulullah.” Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak dan ditunjukkannya kepada Rasulullah SAW seraya bertanya, “Apakah sah haji anak ini?” Jawab Nabi Muhammad SAW, “Sah dan engkau mendapat pahala pula.” (Riwayat Muslim dan Ahmad).
Anak kecil yang menunaikan haji belum terhitung melunasi kewajiban hajinya. Ia masih harus menunaikan haji jika sudah dewasa. Hal ini sangat gamblang dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW dari Ibnu Abbas. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa anak-anak yang naik haji, kemudian mencapai usia baligh, maka ia wajib menunaikannya sekali lagi, demikian pula budak jika ia naik haji, kemudian dimerdekakan, maka ia wajib haji sekali lagi. (HR. Bukhari).
Menurut Abu Hanifah, haji anak kecil tidak bisa dianggap sah, sekalipun sudah mumayyiz, baik diizinkan walinya maupun tidak, karena tujuan haji bagi anak kecil itu semata-mata untuk latihan. Pendapat Abu Hanifah ini ditentang oleh jumhur ulama. Menurut jumhur ulama, hajinya sah kalau mendapat izin dari walinya, karena izin wali merupakan syarat sahnya ihram. Dalam melakukan haji, pelaksanaan rangkaian amalan haji anak kecil yang belum mumayyiz digantikan oleh walinya, seperti melakukan ihram, membaca talbiyah, mengerjakan thawaf, sa’i dan wuquf di Arafah, serta melempar jumrah.
Orang tua atau wali melaksanakan amalan-amalan tersebut bersama anak kecil tersebut. Apabila anak tersebut telah mumayyiz atau baligh (sudah cerdas, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk) di saat wuquf di Arafah atau sebelumnya, maka ia harus menunaikan pelaksanaan haji sendiri dan tidak digantikan oleh walinya. Haji yang dikerjakannya dianggap telah memenuhi rukun Islam kelima dan ia tidak diwajibkan haji lagi di tahun-tahun mendatang.

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa haji anak kecil itu hukumnya sah dan mendapat pahala dari hajinya, namun pelaksanaan hajinya itu belum membebaskannya dari kewajiban haji jika ia dewasa nanti. Apabila anak kecil yang sedang melaksanakan haji mencapai masa baligh sebelum wuquf di Arafah, menurut kesepakatan ulama hajinya sah dan dianggap telah melunasi kewajiban hajinya dan ia tidak wajib menunaikan ibadah haji di masa mendatang.wallahua’lam semoga artikel Hukum Anak Kecil Menunaikan Umrah bisa menambah ilmu anda dan semoga bermanfaat, Terimakasih

Tips Umroh Bersama Anak

Tips Umroh Bersama Anak

Tips Umroh Bersama Anak – Umroh merupakan kegiatan ibadah yang sangat menyita energi. Bagi orang tua, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Apalagi bila kita hendak mengajak si kecil berumroh.

Tujuan Umroh Bersama Si Kecil
Beberapa keluarga, ada yang mengajak anak-anak untuk pergi umroh semata-mata karena ingin memberikan pengalaman baru kepada anak-anaknya meskipun menurut kesepakatan ulama tidak ada kewajiban untuk berumroh bagi anak-anak yang belum akil baligh. Selain itu ada pula keluarga yang membawa serta anaknya yang masih balita untuk berumroh karena tidak ingin meninggalkan anak sendirian, terutama yang masih menyusu ASI.

Biaya Umroh
Untuk biayanya, ada biro travel umroh yang mengenakan diskon sebesar 5 – 15% dari biaya umroh yang dikeluarkan untuk anak yang berusia antara 0 – 24 bulan (2 tahun). Sedangkan untuk anak diatas usia 2 tahun dikenakan biaya sama dengan biaya umroh orang tua.

Ada juga skema diskon lain tergantung dari masing-masing biro perjalanan umroh tersebut. Biasanya besarnya diskon ini merupakan variabel dari diskon di penerbangan dan hotel untuk anak-anak.

Baca Juga : Bagaimana jika anak kecil ikut melaksanakan Umrah?

Syarat dan Perlengkapan Umroh Si Kecil
Seperti halnya orang tua yang hendak pergi umroh, maka beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk si kecil adalah paspor. Ketentuan terbaru, anak-anak harus memiliki paspor, prosedurnya hampir sama dengan pengurusan paspor bagi orang tua. Hanya saja karena masih anak-anak dan tidak memiliki KTP, maka dokumen yang harus digunakan adalah akta kelahirannya, KTP orang tua, dan Kartu Keluarga (KK). Persyaratan nama di paspor anak  dengan 3 suku kata tetap berlaku.

Sebelum berangkat, pastikan anak-anak mendapatkan vaksinasi meningitis. Namun vaksin ini tidak wajib bagi anak yang berusia di bawah 2 tahun. Persiapkan pula untuk membawa obat-obatan yang diperlukan untuk sakit ringan. Misalnya minyak angin, obat panas, batuk, thermometer, dan sebagainya. Bila perlu bawa pula vitamin dan suplemen. Untuk menghalau kebosanan, bawa pula mainan si kecil atau buku bacaan favoritnya bila dia telah bisa membaca.

Musim Saat Umroh
Perhatikan pula pada musim apa Anda akan berangkat umroh bersama buah hati. jangan lupa membawa jaket, baju hangat, dan pelembab kulit untuk Anda dan anak-anak. Ada baiknya perlu juga berkonsultasi dengan dokter anak apabila anak tersebut memiliki penyakit khusus seperti asma atau alergi sehingga bisa mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk makanan, di Tanah Suci tersedia restoran atau rumah makan yang menunya cukup bersahabat dengan anak-anak. Misalnya ada yang menjual ayam atau telur goreng/rebus, es krim, dan sebagainya. Untuk pakaian, sesuaikan juga dengan musim. Bila Anda dan si kecil berangkat saat musim panas, pilih baju dari katun yang dapat menyerap panas. Sebaliknya, bila Anda berangkat saat musim dingin, persiapkan baju hangat ekstra atau jaket. Direkomendasikan Anda pergi umroh bersama anak di awal atau akhir bulan, karena cuaca belum terlalu panas atau tidak terlalu dingin. Bawa pula diapers bila anak masih balita.

Apabila anak merasa capek pada saat menjalani thawaf keliling Ka’bah atau saat lari Sa’i, jangan memaksa si anak. Bila memungkinkan Anda dapat menggendong si kecil atau menyewa kursi roda yang disediakan di sekitar Masjidil Haram. Stroller atau kereta bayi hanya boleh sampai pintu masuk masjid, namun kursi roda masih boleh masuk. Atau Anda siapkan juga gendongan.
Menurut pengalaman, dari beberapa jamaah umroh yang bepergian bersama anak balitanya, stroller masih boleh masuk di masjid di Madinah. Selain itu kursi roda juga disewakan beserta pendorongnya. Ada baiknya bila Anda memilih pendorong kursi roda orang Indonesia, bukan orang lokal. Namun apabila masih memungkinkan Anda beribadah sembari mendorong kursi roda si kecil tidak apa-apa. Demikian sedikit informasi tentang tips membawa anak pergi bersama melaksanakan ibadah umroh. Yang penting adalah jangan memaksakan kepada anak untuk mengikuti ibadah umroh seperti halnya orang tua. Perhatikan juga kenyamanan dan keamanan anak ketika Anda sedang beribadah.
semoga Tips Umroh Bersama Anak di atas bisa bermanfaat bagi anda, Terimakasih
Bagaimana jika anak kecil ikut melaksanakan Umrah?

Bagaimana jika anak kecil ikut melaksanakan Umrah?

Bagaimana jika anak kecil ikut melaksanakan Umrah? – Sehubungan dengan ibadah ini anak-anak dibagi menjadi dua bagian, yaitu: anak-anak mumayyiz dan anak-anak ghairu mumayyiz.

  1. Anak mumayyiz adalah anak yang telah mengetahui baik dan buruk sesuatu dan diapun dapat melakukan amalan-amalan Umrah Mufradah dengan benar.
  2. Anak ghairu mumayyiz adalah anak yang belum mencapai tingkat mumayyiz atau belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan belum bisa melakukan amalan-amalan Umrah Mufradah dengan baik.

Seorang anak yang telah mencapai tingkat mumayyiz, maka dia sendirilah yang harus melakukan ihram dan amalan-amalan lainnya. Dan dalam hal-hal yang dia tidak dapat melakukannya, maka bapak atau pembimbingnya dapat memberikan bantuan atau pertolongan kepadanya.

Adapun jika anak yang belum mumayyiz maka amalan-amalan Umrah Mufradahnya  bisa dilakukan sebagai berikut:

  1. Ihram, dalam hal ini, pemandu atau ayahnya dapat memakaikan pakaian ihram kepadanya dan menyuruhnya untuk melakukan niat ihram. Apabila dia bisa membaca talbiyah, maka dia harus membacanya sendiri. Apabila tidak bisa, maka ayahnya atau pemandunya bisa mendiktenya, misalnya ayahnya membaca satu-satu kemudian anak tersebut mengikutinya. Dan apabila hal inipun masih belum dapat dia lakukan, maka ayah atau pemandunya itulah yang harus membacakan talbiyah dengan niat mewakili (menggantikan) kewajiban talbiyah anak yang belum mumayyiz tersebut.
  2. Thawaf, pada saat melakukan thawaf, anak yang belum mumayyiz ini harus melakukan thawafnya sendiri apabila mampu, dan apabila dia tidak mampu melakukannya sendiri maka dia boleh digendong atau dibawa mengelilingi Ka’bah untuk melakukan Thawaf sebanyak tujuh kali putaran.
  3. Shalat thawaf, apabila anak yang belum mumayyiz tersebut bisa melaksanakan shalat thawaf sendiri, hendaklah dia disuruh melaksanakannya, dan apabila dia belum mampu melakukan shalat thawaf maka ayah atau pemandunya bisa melaksanakan shalat thawaf sebagai wakil dari anak tersebut.
  4. Sa’iy bisa dilaksanakan seperti pelaksanaan thawaf di atas, yaitu jika bisa dia yang harus melaksanakannya sendiri, jika tidak maka ayah/ walinya mewakilinya dalam pelaksanaan sa’iy.
  5. Memotong atau mencukur rambut atau kuku, yaitu dengan cara rambut atau kukunya dipendekkan atau dipotong setelah melaksanakan Sa’iy.
  6. Thawaf Nisa serta Shalat Thawaf Nisa dapat dilaksanakan sebagaimana keterangan yang disebutkan pada Thawaf Umrah dan Shalat Thawaf Umrah di atas.

Catatan:

  1. Membawa anak kecil untuk melakukan amalan umrah seperti ihram dan seterusnya hukumnya mustahab atau sunah. Oleh karena itu para jemaah yang membawa anak kecil yang belum baligh ke kota Mekkah dan Madinah, apabila mereka menginginkan agar anaknya melakukan Umrah Mufradah juga, hendaklah diperhatikan dengan sebaik-baiknya sehingga amal ibadahnya dapat dilaksanakan dengan baik, benar, sempurna dan tidak ada problem, kekurangan atau cacat.
  2. Anak-anak yang telah berihram untuk Umrah Mufradah, maka dia pun harus melakukan Thawaf dan Shalat Thawaf dalam keadaan yang suci atau mempunyai wudhu. Apabila seorang anak mumayyiz telah mampu melakukan wudhu dengan benar dan sempurna, maka ia sendirilah yang harus mengambil air wudhu untuk melakukan Thawaf dan Shalat Thawaf tersebut. Apabila dia belum mumayyiz dan belum bisa mengambil air wudhu maka sang ayah/wali mengajarkan kepadanya bagaimana tata cara berwudhu sehingga dia bisa mengambil wudhu sendiri. Setelah diajarkan masih tetapi masih belum bisa melakukan  wudhu, maka hendaklah orang tua atau pembimbingnya mewudhu’kannya atau membantunya dalam pelaksanaan wudhu’.
  3. Jika seorang anak yang telah melakukan ihram untuk Umrah Mufradah, diharuskan baginya untuk melaksanakan Thawaf Nisa dan juga Shalat Thawaf Nisa. Apabila dia tidak melaksanakan Thawaf Nisa dan Shalat Thawaf Nisa maka ia tidak bisa melakukan akad nikah (perkawinan)
  4. Thawaf yang dilakukan oleh anak laki-laki (yang belum baligh) atau orang laki-laki dewasa yang belum dikhitan, dianggap tidak sah. Oleh karena itu orang tua atau wali dari anak-anak tersebut, apabila dia mempunyai anak kecil laki-laki dan belum dikhitan, sebaiknya tidak melakukan ihram (tidak ber ihram), sekalipun dia belum mumayyiz.
  5. Pembimbing atau wali dari anak kecil, hendaklah menjauhkan anak yang sedang ihram tersebut dari segala hal yang diharamkan selama pelaksanaan ihram, kecuali berjalan di bawah payung atau naungan dimana hal itu diharamkan bagi orang laki-laki dewasa saja, dan diperbolehkan bagi anak kecil.
  6. Dalam melakukan Thawaf dan Sa’iy haruslah menjaga syarat-syarat yang telah ditentukan, misalnya ketika thawaf badan dan pakaian anak kecil tersebut diharuskan dalam keadaan suci dan hendaklah bagian badan sebelah kirinya mengarah ke Ka’bah dan ketika melakukan Thawaf atau Sa’iy hendaklah dalam keadaan terjaga atau sadar. Oleh karena itu sangat dipesan atau dianjurkan bagi mereka yang tidak mampu memperhatikan anak-anak kecil tersebut dengan baik, hendaknya jangan meng ihram kan mereka (artinya biarkan mereka dari awal tidak melakukan ihram dan umrah. Pent.).

Semoga artikel Bagaimana jika anak kecil ikut melaksanakan Umrah di atas bisa bermanfaat bagi anda, Terimakasih

 

Panduan Lengkap Manasik Haji

Panduan Lengkap Manasik Haji

Apa itu manasik haji – Mungkin masih ada sebagian orang yang belum mengerti apa itu manasik haji, padahal ini merupakan perkara penting yang wajib di ketahui oleh calon jamaah haji. Arti manasik haji itu sendiri adalah petunjuk atau penjelasan mengenai bagaimana cara mengerjakan haji yang benar, mulai dari rukun, Sunnah, wajib, syarat haji dengan bantuan miniature Ka’bah. Dan manasik haji dilakukan pada saat sebelum keberangkatan haji sebagai bahan persiapan. Dan saat ini sudah banyak sekali sekolah-sekolah yang menyelenggarakan manasik haji untuk siswanya.

Urutan kegiatan dalam ibadah haji

Urutan kegiatan merupakan salah satu bentuk dan hal yang diajarkan pada saat manasik haji, dimana anda bisa mengetahui urutan cara ibadah haji yang benar. Untuk uraian lengkapnya terdapat pada pembahasan di bawah ini.

1. Sebelum tanggal 8 Dzulhijah

Pada hari sebelum tanggal 8 Dzulhijah, biasanya calon jamaah haji akan berbondong-bondong untuk melakukan Thawwaf Qudum di Masjidil Haram. Dan cara yang benar adalah para jemaah calon haji menggunakan pakaian ihram atau pakaian dua lembar kain tanpa jahitan yang digunakan sebagai pakaian haji. Dan sesuai dengan miqatnya para calon jamaah haji kemudian membaca niat haji, dan membaca Talbiyah.

2. Tanggal 9 Dzulhijah

Pada tanggal 9 Dzulhijah pagi hari, biasanya calon jamaah haji akan menuju ke padang Arafah guna melaksanakan rukun haji yaitu wukuf. Wukuf itu merupakan berdiam diri dan berdoa di padang Arafah. Tujuan dari wukuf di padang Arafah untuk merenungkan kembali perbuatan-perbuatan yang telah diperbuat selama hidupnya. Dengan demikian calon jamaah haji yang melakukan wukuf di padang Arafah, diharapkan mampu menjadi insan yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

Masih pada tanggal 9 Dzulhijah waktu malam hari yaitu calon jamaah haji akan menuju ke Muzdalifah guna melakukan mabbit atau bermalam. Mabbit di sini berarti berdiam diri dan bermalam di Muzdalifah sebelum tanggal 10 Dzulhijah. Pada bagian sebelah barat Muzdalifah terdapat Masy’aril Haram atau yang sering diebut dengan gunung Quzah. Pada tempat tersebutlah calon jamaah haji melakukan mabbit atau wukuf, minimal sudah melewati waktu tengah malam. Tapi idealnya dilakukan sampai dengan waktu shubuh selesai.

Seperti yang sudah kami sebutkan diatas, jika sebelum pergi ke mina kita harus melakukan mabbit di Muzdalifah terlebih dahulu minimal sampai tengah malam. Jika waktu sudah melewati tengah malam, maka anda sudah bisa untuk melakukan perjalanan ke Mina, dimana kegiatan selanjutnya yaitu untuk melakasanakan ibadah melontar Jumroh. Mina sendiri merupakan salah satu lembah padang pasir yang terdapat di sebelah Timur kota Makkah, kurang lebih sekitar 5 kilometer.

Mina juga mendapatkan sebuah sebutan lain yaitu Kota tenda, karena memang disini terdapat jutaan tenda dari berbagai macam calon jamaah haji di dunia. Biasanya calon jamaah haji akan mendirikan tenda pada tanggal 8 Dzulhijah, lalu pergi ke padang Arafah dan kembali lagi ke Mina. Di Mina terdapat tiga tempat atau lokasi untuk melakukan pelemparan Jumroh yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wusta, dan Jumrah Aqabah.

Dan di Mina calon jamaah haji wajib melakukan mabbit atau bermalam yaitu pada malam tanggal 11, dan 12 bagi calon jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal. Calon jamaah haji bisa juga bermalam pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah untuk melaksanakan Nafar Tsani. Selain itu Mina merupakan tempat untuk melakukan penyembelihan hewan kurban, dan di Mina sendiri terdapat sebuah masjid yang bernama Masjid Khaif. Dimana masjid ini pernah dijadikan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan shalat dan khutbah pada saat ibadah haji.

3. Tanggal 10 Dzulhijah

Pada tanggal ini calon jamaah haji melakukan lempar Jumroh sebanyak 7 kali ke Jumrah Aqabah. Tujuan dari pelemparan Jumroh itu sendiri yaitu sebagai simbol untuk mengusir setan. Dan dalam ibadah haji sendiri pelemparan Jumroh tidak hanya dilakukan satu hari saja, melainkan dilakukan dalam beberapa hari. Setelah selesai melempar Jumroh kemudian dilanjutkan dengan tahallul atau mencukur rambut kepala.

Terusan dari pembahasan sebelumnya, adalah ketika calon jamaah haji mengambil Nafar Awal. Maka calon jamaah haji haru melanjutkan perjalanannya ke Masjidil Haram guna melakukan Thawaf Ifadhah. Sedangkan bagi para calon jamaah haji yang mengambil Nafar Tsani, maka calon jamaah haji akan tetap berada di Mina guna melakukan pelemparan Jumroh selanjutnya yaitu Jumroh Wusta dan Jumroh Ula.  Thawaf sendiri berarti mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dan putaran dilakukan berlawanan arah jarum jam.

4. Tanggal 11 dan 12 Dzulhijah

Pada tanggal inilah dilakukannya pelemparan Jumroh lanjutan, dimana calon jamaah haji akan melakukan pelemparan Jumroh Ula di tugu pertama sampai dengan tugu ketiga. Pelemparan Jumroh ini idealnya dilakukan pada setelah shalat Dzuhur, sambil membaca takbir setiap kali melakukan lemparan. Dan di Sunnahkan setelah melakukan pelemparan Jumrah Ula agar berdiri di samping kanannya, sedangkan untuk pelemparan Jumrah Wusta di sunnahkan untuk berdiri di samping kirinya.

5. Kembali ke Makkah

Setelah melakukan pelemparan Jumrah pada hari-hari Tasyrik tersebut, calon jamaah haji akan kembali lagi ke Makkah untuk melaksanakan Thawaf Wada’ atau Thawaf perpisahan. Hukum dari melakukan Thawaf ini yaitu wajib, sehingga kalau sampai di tinggalkan maka calon jamaah haji wajib untuk membayar dam atau denda. Thawaf ini dilakukan dengan tujuan, agar jamaah haji yang ingin berpulan ke negara masing-masing melakukan perpisahan dengan Baitullah.

Semoga artikel Panduan Lengkap Manasik Haji ini bisa bermanfaat bagi anda, Terimakasih.

Cara Mendaftar Haji Regular Dan Plus Yang Wajib Anda Ketahui

Cara Mendaftar Haji Regular Dan Plus Yang Wajib Anda Ketahui

Cara Mendaftar Haji Regular Dan Plus Yang Wajib Anda – Bagi anda yang berminat untuk mendaftar haji regular, berikut beberapa tata cara daftar haji :

 

1.Membuka rekening bank haji

Hal pertama yang harus anda lakukan ketika melakukan pendaftaran haji regular yaitu dengan cara membuka rekening bank haji. Tapi perlu di ingat bahwa tidak semua bank di Indonesia menerima setoran haji, hanya ada beberapa jenis bank yang sudah di tunjuk untuk menerima setoran haji yaitu, Bank BRI, BRI Syariah, Mandiri, Syariah Mandiri, Muamalat, Jateng, BTN, Mega Syariah, dan Bank Mega.

Dan untuk bisa membuka tabungan haji sendiri anda harus datang langsung ke Bank tersebut, karena memang anda harus mengisi formulir, membubuhkan tanda tangan, dan membawa KTP asli maupun fotocopy. Biasanya untuk biaya daftar haji awal yaitu minimal Rp.500.000, dan setoran lanjutannya yaitu sebesar Rp.100.000. Tabungan ini bersifat tanpa bunga dan tanpa biaya administrasi, selain itu tidak ada kartu ATM. Karena memang ini hanya di khususkan untuk setoran haji.

Dan perlu di ingat bahwa tabungan haji berbeda dengan tabungan pada umumnya, untuk itu anda perlu menyampaikan keinginan untuk membuka rekening haji kepada customer service yang melayani. Anda bisa menyetorkan uang berapapun jumlahnya, ketika jumlah tabungan yang anda setorkan sudah mencapai Rp.25 Juta. Maka anda sudah bisa mengajukan kepada Kementrian Agama untuk mendapatkan SPPH dan Nomor Porsi keberangkatan haji.

2. Surat keterangan sehat dan golongan darah

Langkah selanjutnya yaitu dengan cara mengecek kesehatan dan golongan darah, dimana surat keterangan sehat ini akan di bawa ke kantor Kementrian Agama sebagai syarat pendaftaran haji. Dan perlu di ingat agar anda menyampaikan kepada dokter bahwa anda ingin mengecek kesehatan sebagai syarat pendaftaran haji.

 

3. Mengisi surat pendaftaran haji

Setelah tabungan anda mencapai angka 25 juta, maka anda sudah bisa meminta dan mengisi SPPH di Kantor KEMENAG. Anda bisa mendapatkan surat ini di kantor KEMENAG kabupaten bukan KUA yang ada di kecamatan. Jelaskan kepada petugas bahwa anda ingin mendaftar haji, maka anda akan diberikan formulir pendaftaran haji. Dimana di dalam formulir tersebut berisikan beberapa isian seperti, NIK, Nomor Rekening Haji, Golongan Darah, dan masih banyak data lainnya.

4. Mengajukan nomor

Setelah anda mendapatkan SPPH dan sudah mengisi formulir tersebut, maka langkah selanjutnya dalam pendaftaran haji yaitu dengan cara mengajukan nomor porsi di bank. Dalam hal ini anda perlu mengunjungi bank pembukaan rekening haji, dan menyampaikan kepada customer service yang bertugas bahwa anda ingin mendapatakan nomor porsi untuk keberangkatan haji. Tapi sebelum itu pastikan bahwa uang tabungan anda sudah benar-benar mencukupi (25 juta), karena jika kurang dari jumlah tersebut anda belum bisa mendapatkan nomor porsi keberangkatan haji.

5. Melapor ke Kantor Kementrian Agama

Cara pendaftaran haji selanjutnya yaitu dengan cara melapor ke Kantor Kementrian Agama, tapi sebelum melapor anda harus menyiapkan beberapa dokumen seperti berikut:

  • Bukti setoran awal BPIH.
  • 1 lembar surat pendaftaran pergi haji
  • 10 lembar foto ukuran 3×4, dan 2 lembar foto ukuran 4×6. Dengan ketentuan foto tersebut berwarna, 80% menampilkan wajah, menggunakan pakaian gelap, background putih, dan tidak berkacamata.
  • Foto copy surat keterangan sehat dari puskemas sebanyak 4 lembar.
  • Foto copy akta kelahiran/ijazah/buku nikah sebanyak 2 lembar.
  • Foto copy kartu keluarga sebanyak 2 lembar.
  • Foto copy KTP.

Setelah anda memenuhi berbagai macam persyaratan di atas, maka anda tinggal menunggu keputusan dari Kantor Kementrian Agama di tahun berapa anda akan berangkat menunaikan ibadah haji. Cara cek no porsi haji yaitu bisa melalui laman website kemenag.go.id.

Cara mendaftar haji ONH plus

Untuk pendaftaran dan biaya haji plus sendiri akan berbeda dengan cara pendaftaran haji regular, dimana untuk pendaftaran haji plus sendiri anda harus menyetorkan uang sebesar 5000 USD, dengan rincian Rp.1.100.000 untuk DP ke Travel haji plus, dan sisanya untuk setoran awal ke KEMENAG. Nah setelah anda mendapatan nomor porsi ONH plus, anda sudah bisa menyerahkan semua berkas yang dibutuhkan ke Travel penyelenggara haji ONH plus. Untuk pelunasan pembayaran haji plus sendiri yaitu 4 bulan setelah anda mendapatkan nomor porsi ONH plus.

Biasanya untuk jumlah biaya haji plus yaitu antara 8000 USD sampai dengan 12000 USD, jumlah tersebut tergantung dari fasilitas hotel yang anda pilih dan juga teman sekamar yang dipilih, apakah sekamar 2, 3, 4 orang. Semakin dekat hotel yang anda pilih dengan Masjidil Haram Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, maka akan semakin mahal pula biaya pembayaran yang harus anda taguhkan.

Untuk itu kami sarankan kepada anda jika memiliki niatan untuk melaksanakan ibadah haji agar mendaftar dan membuka tabungan rekening bank yang sudah di tunjuk langsung oleh Kementrian Agama. Hal ini di tujukan untuk berjaga-jaga terjadinya penipuan, karena memang saat ini sudah marak sekali terjadinya penipuan pemberangkatan haji yang dilakukan oleh Travel haji ONH plus.

Padahal kalau anda ketahui pihak ONH plus juga harus mendapatkan nomor porsi haji dari Kementrian Agama terlebih dahulu untuk bisa berangkat haji secara resmi. Untuk itu pastikan bahwa anda sudah memiliki tabungan haji di bank yang sudah di tunjuk oleh Kementrian Agama terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk menyerahkan syarat-syarat haji kepada pihak ONH plus.

Semoga artikel Cara Mendaftar Haji Regular Dan Plus ini bisa bermanfaat bagi Anda, Terimakasih.

Syarat Sah Dan Wajib Haji Yang Harus anda Perhatikan

Syarat Sah Dan Wajib Haji Yang Harus anda Perhatikan

Syarat Sah Dan Wajib Haji Yang Harus anda Perhatikan – Sebelum masuk ke dalam pembahasannya, ada baiknya anda mengetahui apa itu haji. Kata haji sendiri berasal dari kata benda “ hajja-yahijju-hijjun” atau dari kata sifat yaitu “hajja-yahujju-hajju”. Jika di artikan secara bahasa, haji sendiri berarti menunjungi, berziarah secara sengaja. Sedangkan untuk pengertian haji secara istilah yaitu melakukan perjalanan yang di sengaja ke tempat suci dengan niatan untuk beribadah dan mendapat keridhaan di sisi Allah SWT. Definisi lain dari haji yaitu melaksanakan rukun islam yang kelima sebagai syarat untuk menyempurnakan agama islamnya.

Syarat wajib haji

Syarat wajib haji merupakan hal-hal yang membuat seseorang wajib melakukan haji. Dengan kata lain sebelum orang tersebut berangkat ibadah haji, maka orang tersebut harus memenuhi syarat wajib haji. Nah berikut beberapa syarat wajib haji yang harus anda penuhi :

1. Islam

Sudah pasti ini menjadi syarat wajib untuk menuikan ibadah haji, karena memang haji sendiri merupakan rukun islam kelima. Dengan kata lain setiap orang yang sudah mampu untuk melaksanakan ibadah haji, maka sangat di anjurkan sekali untuk bersegera dalam melaksanakannya.

2. Berakal

Dalam agama islam sendiri juga memiliki beberapa kriteria untuk melakukan segala sesuatu, contoh gampangnya yaitu manusia yang berakal di tuntut untuk melaksanakan kewajibannya. Sedangkan untuk insan yang tidak memiliki akal, tidak di wajibkan untuk melaksanakan kewajibannya. Jadi dalam hal ini yang di insan yang berakal dan sudah mampu bisa menunaikan ibadah haji.

3. Baligh

Baligh merupakan tanda-tanda dari seseorang sudah dewasa, tentunya bagi seseorang yang sudah baligh di tuntut untuk melaksanakan kewajibannya. Seperti sholat, haji, zakat, dan rukun islam lainnya. apabila orang tersebut belum bisa memenuhi kewajiban tersebut, maka orang tersebut akan mendapatkan dosa. Karena dalam hal ini seseorang yang sudah baligh adalah orang-orang yang sudah memiliki akal pikiran lebih dewasa.

4. Merdeka

Yang dimaksud merdeka dalam hal ini yaitu anda sudah tidak terikat dengan orang lain. Karena memang pada zaman dahulu masih sering dijumpai yang namanya perbudakan, dan sampai sekarang pun masih ada yang menerapkan sistem ini. untuk itu bagi anda yang ingin menunaikan ibadah haji, maka anda harus merdeka dan bebas terlebih dahulu.

5. Mampu

Mampu di sini bisa berarti banyak hal, baik dari segi fisik, finansial, dll. Biasanya untuk bisa melakukan pendaftaran haji, anda akan di tuntut untuk menyerahkan beberapa hal, seperti melunasi pembayaran, cek kesehatan. Tentunya ini berarti anda harus mampu untuk mencukupi hal tersebut. Nah berikut beberapa syarat mampu yang harus anda penuhi :

  • Mampu dalam segi fisik, yatu memiliki biaya untuk naik haji.
  • Memiliki bekal yang cukup untuk di bawa pada saat haji.
  • Memiliki kendaraan ( hal ini sudah bisa anda dapatkan ketika mendaftar haji)
  • Aman dalam perjalanan (tentunya ini merupakan hal penting untuk bisa melakukan ibadah haji di tanah suci).
  • Bagi perempuan, alangkah baiknya bersama dengan muhrimnya paling tidak dengan seseorang yang benar-benar sudah di percaya.
  • Sehat secara jasmani maupun rohani (biasanya dalam pendaftaran haji, anda akan di suruh untuk melampirkan cek kesehatan terlebih dahulu).

Syarat sah haji

Nah setelah anda memenuhi syarat wajib haji di atas, maka pemahaman selanjutnya yang perlu anda perhatikan yaitu syarat sah dalam ibadah haji. Karena memang haji sendiri merupakan salah satu ibadah madhah, dengan kata lain harus dikerjakan dan dilaksanakan dengan apa yang sudah di contohkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini ditujukan untuk membuat haji yang anda lakukan di anggap sah secara hukum islam. adapaun syarat sah haji yaitu sebagai berikut :

  • Dilakukan dan dilaksanakan sesuai dengan batas-batas waktunya.
  • Melakukan urutan pelaksanaan haji sesuai dengan rukun dan wajib haji yang telah di tentukan.
  • Memenuhi segala macam syarat dari pelaksanaan serangkaian ibadah haji, contohnya seperti sa’i. thawaf, dan masih banyak lainnya.
  • Dilakukan dan dilaksanakan di tempat yang sudah di tentukan dalam syariat agama islam.

Wajib haji

Seperti yang sudah kami sampaikan di atas, jika wajib haji adalah perkara penting dan harus dilakukan selama anda menunaikan ibadah haji. Karena kalau salah satu wajib haji tidak anda lakukan, maka anda diharuskan untuk membayar dam atau denda sesuai dengan apa yang anda tinggalkan. Berikut beberapa wajib haji yang harus anda lakukan selama ibadah haji :

1. Berihram dan miqat

Wajib haji yang pertama yaitu menggunakan pakain ihram, pakaian ihram dalam hal ini adalah pakaian yang tidak menggunakan jahitan dengan balutan dua kain. Selain itu anda harus mengunjungi salah satu tempat miqat yang sudah di tentukan sambil membaca niatan untuk ibadah haji.

2. Mabbit atau bermalam di Muzdalifah

Wajib haji selanjutnya yaitu bermabbit atau bermalam di muzdalifah, dalam hal ini anda harus bermalam di muzdalifah setelah melakukan perjalanan di padang Arafah. Minimal waktu bermalam yang harus anda tempuh yaitu sesudah waktu tengah malam, dan idealnya anda bisa sampai dengan waktu shubuh.

3. Melempar jumrah aqabah

Melempar jumrah di sini di artikan sebagai perlambang untuk membuang diri anda dari jeratan setan. Dan dalam hal ini melempar jumrah aqabah adalah hal wajib yang harus anda lakukan selama beribadah haji. Dimana pelaksanaan dari pelemparan jumrah ini yaitu pada tanggal 10 Dzulhijah di Mina, atau setelah anda bermalam di Muzdalifah.

4. Melempar jumrah di hari Tasyrik

Setelah anda melakukan lemparan jumrah aqabah pada tanggal 10 Dzulhijah, maka pada hari-hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, 13 anda juga di wajibkan untuk melempar tiga buah jumrah. Idealnya setelah tergelincir matahari atau pada waktu dhuhur.

5. Bermalam di Mina

Sleanjutnya yaitu bermalam di Mina, hal ini dilakukan ketika anda ingin melakukan pelemparan jumrah.

6.Thawaf Wada’a

Ini merupakan salah satu wajib haji yang terakhir, dimana thawaf ini ditujukan untuk mengucapkan perpisahan ke Baitullah setelah melakukan serangkaian ibadah haji.

7.Menjauhkan diri dari segala larangan haji yang sudah di tentukan.

Nah itulah beberapa syarat sah dan wajib haji yang harus anda perhatikan selama menunaikan ibadah haji. Semoga informasi tersebut bisa bermanfaat untuk anda.