6 Syarat Umroh yang Wajib Anda Ketahui

6 Syarat Umroh yang Wajib Anda Ketahui

6 Syarat Umroh yang Wajib Anda Ketahui – Selain ibadah haji, umroh merupakan salah satu ibadah wajib yang diperintahkan Allah kepada manusia. Walaupun demikian, tidak setiap orang mendapatkan amanat untuk menunaikan ibadah ini. Umroh hanya diwajibkan bagi orang-orang yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Apabila keadaan Anda saat ini telah memenuhi semua persyaratan tersebut, Anda pun harus segera menunaikan ibadah agung ini. Demikian pula sebaliknya, ketika terdapat satu persyarat saja yang belum Anda penuhi, Anda belum diwajibkan untuk melaksanakan ibadah ini. Berikut ini adalah syarat-syarat umroh yang membuat seseorang wajib menunaikan ibadah umroh.

Syarat Umroh :

1. Islam

Ibadah umroh adalah ibadah yang hanya diwajibkan kepada orang-orang muslim, yaitu orang-orang yang memeluk agama Islam. Seorang muslim yang telah memenuhi semua persyaratan umroh wajib menunaikan ibadah, setidaknya sekali dalam seumur hidupnya.

2. Berakal

Ibadah umroh juga diwajibkan kepada seorang muslim yang berakal. Seorang muslim yang tidak sadarkan diri karena sakit, gila, atau karena sebab-sebab lainnya tidak diharuskan untuk menunaikan ibadah umroh, meskipun memiliki harta yang cukup untuk pergi ke Tanah Suci.

3. Balig

Bagi wanita, masa balig ditandai dengan kedatangan haid pertamanya. Adapun, seorang laki-laki dinyatakan memasuki masa balig jika telah mengalami mimpi basah. Selain itu, masa balig juga bisa dinyatakan dengan kemunculan tanda-tanda kedewasaan lain. Misalnya, bentuk tubuh, tumbuhnya rambut di daerah-daerah tertentu, ataupun perubahan suara. Seseorang yang telah berusia 15 tahun juga dianggap balig, meskipun belum mengalami tanda-tanda seperti yang disebutkan sebelumnya.

Seorang muslim yang belum memasuki masa balig tidak diwajibkan menunaikan umroh. Walaupun demikan, dia boleh saja menunaikan ibadah umroh. Hanya saja kelak, ketika dia memasuki usia balig dan dia memenuhi seluruh syarat umroh, dia masih memiliki kewajiban umroh yang harus ditunaikan. Bagi wanita, masa balig ditandai dengan kedatangan haid pertamanya. Adapun, seorang laki-laki dinyatakan memasuki masa balig jika telah mengalami mimpi basah

4. Memiliki Kemampuan

Definisi kemampuan yang membuat seorang muslim wajib melaksanakan ibadah umroh meliputi kemampuan di dalam segala hal. Di antaranya, memiliki harta yang cukup untuk melakukan perjalanan ke Makkah, memiliki perbekalan yang cukup selama perjalanan dan berumroh, telah melengkapi dokumen-dokumen legal yang disyaratkan oleh pemerintah Arab Saudi dan Indonesia atau kewarganegaraan Anda untuk melaksanakan ibadah umroh, serta mampu melaksanakan rukun dan wajib umroh.

Jika Anda memiliki keluarga yang Anda tinggalkan otomatis itu menjadi tanggung jawab Anda, pastikan Anda juga telah meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga yang Anda tinggalkan selama Anda melaksanakan ibadah umroh.

5. Merdeka

Syarat ini menjelaskan bahwa seorang budak tidaklah diwajibkan untuk menunaikan umroh. Pasalnya, seorang budak memiliki kewajiban untuk mengurus keperluan tuannya. Dengan demikian, jika seorang budak tidak diperkenankan oleh tuannya untuk menunaikan ibadah umroh, dia pun tidak wajib untuk melaksanakan ibadah tersebut.

6. Disertai Mahram (Bagi Wanita)

Syarat umroh yang satu ini merupakan syarat umroh yang paling sering diabaikan oleh kaum wanita. Pasalnya, Allah SWT melarang seorang wanita untuk bepergian jauh tanpa disertai oleh mahramnya. Dengan ini, seorang wanita yang tinggal di luar Tanah Suci dan tidak memiliki mahram untuk menemaninya berumroh pun tidak dibebani kewajiban umroh. Adapun, jikaseorang wanita ini telah telanjur melakukan perjalanan jauh untuk berumroh tanpa mahram, ibadah umrohnya tetap sah. Hanya saja, wanita tersebut telah melanggar salah satu larangan dari Allah.

Nah, sudahkan Anda memenuhi semua persyaratan umroh? Jika semua syarat sudah terpenuhi, didukung dengan waktu serta kesempatan berumroh yang luas, Anda pun dianjurkan untuk segera menunaikan ibadah umroh. Bagaimana pun, bersegeralah untuk melaksanakan perintah Allah karena itu merupakan salah satu bentuk syukur Anda kepada Allah.

Terimakasih, dan semoga artikel 6 Syarat Umroh yang Wajib Anda Ketahui bisa bermanfaat.

Pengertian Umrah Dan Haji

Pengertian Umrah Dan Haji

Pengertian Umrah Dan Haji – Umrah adalah salah satu ibadah sunah yang apabila dilakukan akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah SWT. Umroh juga disiratkan di dalam Al-Qur’an sebagai salah satu ibadah maliah atau ibadah yang menuntut adanya pengorbanan harta benda. Meskipun ada beberapa perbedaan mengenai hukum umrah, namun kebanyakan ulama di Indonesia sepakat bahwa umroh hukumnya adalah sunah dan dilakukan sekali seumur hidup.

Sedangkan pengertian haji secara bahasa bermakna al-qoshdu (sengaja/bermaksud) yaitu mengunjungi tempat yang dimuliakan. Secara istilah haji juga bisa diartikan sebagai serangkaian ibadah yang dilakukan pada waktu tertentu dan dengan tata-cara tertentu untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Haji merupakan rukun Islam ke-enam dimana itu adalah kewajiban dan menjadi salah satu indikator bagi kesempurnaan keislaman seseorang dengan ketentuan mereka mampu secara lahir maupun batin dalam menjalankannya.

Hukum Haji Dan Umrah
Hukum melaksanakan Haji ialah wajib bagi setiap muslim yang mampu saja, sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran Ayat 97 yang artinya: “Padanya Yang Terdapat Ada Tanda-Tanda Yang Nyata (Di Antaranya) Yaitu Maqam Ibrahin, Barang Siapa Yang Memasukinya (Baitullah Itu) Menjadi Amanlah Dia. Mengerjakan Haji Merpakan Suatu Kewajiban Setiap Manusia Terhadap Allah, Yaitu (Bagi) Orang Yang Sanggup Mengadakan Perjalanan Ke Baitullah. Barang Siapa Mengingkari (Kewajiban Haji) Maka Sesungguhnya Allah Mahakaya (Tidak Memerlukan Sesuatu) Dari Semesta Alam.” (QS Ali Imran: 97).

Sebagai ulama berpendapat bahwa umrah yang hukumnya mutahabah artinya baik untuk dapat ilakukan dan juga tidak diwajibkan. Hadis Nabi Muhammad Saw. Menyatakan Sebagai Berikut: Haji Ialah Fardu Sedangkan Umrah Ialah “Tatawwu.” (A1 Hadis).

Tatawwung Ya maksudnya ialah tidak dapat diwajibkan, tetapi lebih baik dilakukan untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah atau juga melakukannya lebih utama daripada meninggalkannya karena tatawwu memiliki ganjaran pahala.

Pengertian Umrah Dan Haji

Perbedaan Haji Dengan Umrah
Ibadah Haji dan Umrah merupakan suatu ibadah yang akan dikerjakan oleh umat Islam di Tanah Suci (Mekkah). Cara melakukan ibadah Haji Dan Umroh tidak akan sama, karena mempnyai perbedaan dari segi rukun Umrah dan wajib Umrah, terkadang masih banyak orang yang belum mengetahui dimana perbedaannya. Berikut ini perbedaan Haji Dan Umrah:

  1. Ibadah Haji dilakukan seumur hidup sekali dalam setahun, lalu sedangkan Umrah dapat dilakukan setiap hari dalam setahun kecuali pada hari ibadah Haji.
  2. Pada pelaksannaan Haji adanya wukuf di arafah (Termasuk Rukun Haji), lalu sedangkan pelaksanaan Umrah tidak ada wukuf di arafah.
  3. waktu pelaksanaan ibadah Haji lebih lama karena ibadah Haji ini lebih banyak memakan waktu dibandingkan dengan ibadah Umrah. karena dalam Umrah, kita hanya butuh 3 pekerjaan saja, yakni berihram dari miqat, bertawaf tujuh kali putaran di sekeliling ka’bah, lalu berjalan kaki antara bukit shafa dan juga marwah 7 kali putaran, dan bercukur rambut lalu kemudian selesai .
  4. Dalam pelaksanaan ibadah haji lebih banyak memerlukan tenaga atau fisik yang lebih baik jika dibandingkan dengan ibadah Umrah, karena dalam ibadah haji kegiatan yang dilakukan lebih banyak dan juga lebih rumit dibandingkan ibadah Umrah.
  5. Hukum ibadah haji ialah wajib sedangkan hukum Umrah adalah sunnah.

Perbedaan dari segi rukun atau wajib haji dengan rukun dan wajib Umrah

Rukun Haji Ada 6 Yakni :

  1. Ihram
  2. Wukuf Diarafah
  3. Tawaf
  4. Sa’i
  5. Mencukur
  6. Tertib

Lalu Sedangkan Rukun Umrah Ada 4 Yakni :

  1. Ihram disertai niat.
  2. Tawaf atau mengelilingi kakbah.
  3. sa’i (Lari-Lari kecil antara bukit safaa atau marwah)
  4. Bercukur atau memotong rambut minimal 3 melai.

Wajib Haji Ada 6 Yaitu:

  1. Ihram disertai niat
  2. Mabit (bermalam) di muzdalifah
  3. Melempar 3 Jumrah, Yaitu : Jumrah Ula, Jumrah Wusta, dan Jumrah Aqabah.
  4. Mabit (Bermalam) di mina
  5. Tawaf Wada’ bagi yang akan meninggalkan mekkah
  6. Menjauhkan diri dari larangan maupun perbuatan yang diharamkan dalam ihram seperti: memakai pakaian berjahit bagi pria, menutup kepala bagi pria dan juga menutup muka bagi wanita, memotong kuku, memakai wangi-wangian, mengadakan akad nikah, bersetubuh, berburu hewan,atau juga mencabut bulu badan.

Sedangkan Wajib Umrah Ada 2 Yaitu :

  1. Ihram dari Miqat
  2. Menjaga diri dari larangan-larangan Ihram yang dimana jumlahnya sama dengan larangan Haji.

Sekian artikel  Pengertian Umrah Dan Haji dan Terimakasih

Hindari Hal Salah Kaprah Saat Umroh

Hindari Hal Salah Kaprah Saat Umroh

Beberapa Hal yang Salah Kaprah dalam Umroh – Banyak sekali pahala serta keutamaan yang bergantung pada ibadah umroh yang kita lakukan sehingga para jamaah pun berlomba-lomba melaksanakan umroh, bahkan banyak yang tanpa disadari melakukan beberapa hal yang diluar dari ketentuan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Setelah kita paham akan pengertian umroh serta pernak-perniknya, kita dapat waspada akan terjadinya salah kaprah dalam memaknai ataupun pelaksanaan umroh tersebut. Jangan sampai ibadah umroh kita menjadi sia-sia dikarenakan ketidak pahaman akan pengertian umroh dengan baik serta terjerumus dalam salah kaprah ataupun bid’ah tersebut.

Baca Juga : Pengertian Umroh
Beberapa hal yang salah kaprah dalam ibadah umroh diantaranya ialah:

Salah Kaprah 1: Doa langsung dikabulkan jika kita berdoa di sekitar Ka’bah
Hal tersebut tidak benar dikarenakan tidak terdapat bukti syariat. Walaupun Anda menemukan sebuah hadis yang membahas hal ini maka hadis tersebut tergolong lemah atau dhaif. Seorang ulama bernama Syaikh Saad Al Humaid mengatakan bahwa pendapat yang menyatakan hal tersebut tidaklah benar karena ibadah harus berdasarkan atas bukti-bukti yang shahih, tidak ambigum, serta Allah tahu yang terbaik.

Salah Kaprah 2: Mencium Batu Hajar Aswad serta berhenti di pertengahan thawaf
Suatu momen bisa mencium Batu Hajar Aswad ialah sunnah yang indah serta menjadi kehormatan untuk orang yang bisa melakukannya. Akan tetapi, dikarenakan banyak sekali orang yang ingin melakukannya bahkan tidak dapat dijangkau dengan mudah atau bahkan sekedar menyentuhnya.

Padahal mencium Batu Hajar Aswad tersebut dapat menyebabkan ketidak nyamanan terhadap jamaah ibadah umroh ataupun haji lainnya dikarenakan kita terpaksa berhenti mendadak di tengah lingkaran dari jutaan jamaah yang sedang bergerak.

Tidak hanya itu, namun juga dapat menyebabkan jamaah terdesak serta jatuh terinjak-injak oleh jutaan orang lainnya. Rasulullah SAW serta semua nabi tidak menyuruh kita untuk melakukan hal tersebut pada saat jumlah jamaah sedang membludak akan tetapi melambaikan tangan dari titik kejauhan di luar kerumumnan sambil mengucapkan “Allahu Akbar”

Salah Kaprah 3: Berdoa dengan suara keras serta serempak
Pada kelompok-kelompok tertentu, bisa jadi mereka beroda dengan suara lantang secara bersama-sama. Padahal hal tersebut bisa menyebabkan jamaah lainnya tidak khusyuk . Lebih baik apabila Anda membaca doa dengan suara pelan atau bisa dalam hati sehingga Anda akan lebih fokus dengan doa yang Anda baca, baik dalam bahasa Arab ataupun bahasa lainnya yang Anda pahami.

Lebih baik juga Anda membaca doa yang Anda pahami maknanya ketimbang tidak Anda mengerti. Jangan sampai Anda salah ketika mengucapkan doa dikarenakan mengikuti orang lain yang bersuara keras serta lantang

Salah Kaprah 4: Membaca doa-doa tertentu setiap putaran saat thawaf
Tidak sedikit para jamaah yang membaca doa-doa tertentu pada setiap putaran thawaf. Doa yang dibaca antara putaran satu dengan yang lainnya berbeda-beda bahkan membuat sebuah buku panduan doa yang mengharuskan jamaah untuk menghafalnya. Padahal hal tersebut tidak dicantumkan pada syariat.

Rasulullah SAW sendiri tidak mencontohkan kepada umatnya untuk membaca doa-doa tertentu pada setiap putaran thawaf. Kita diperbolehkan membaca doa apa saja yang mampu dan hafal.

Doa yang dibaca oleh nabi selama thawaf ialah ketika beliau telah sampai akhir lintasan antara Rukun Yamani serta Batu Hajar Aswad, beliau membaca Rabbana aatina fid dunya hasanatan wa fil aakhirati hasanah wa qinaa adzaa bannar yang berarti Ya Tuhankau, berikanlah aku kebaikan di dunia serta akhirat serta jauhkanlah aku dari api nerakaMu

Salah Kaprah 5: Menyentuh ka’bah, Masjidil Haram, atau Masjid Nabawi agar mendapatkan berkah
Tidak sedikit jamaah yang menyentuh Ka’bah ataupun makam Nabi Ibrahim karena dianggap akan mendapatkan berkah. Padahal hal tersebut tidaklah benar dan bisa dianggap sebagai musyrik.

Karena berkah hanya datang dari Allah SWT serta syafaat hanya dari Rasulullah SAW melalui amalan ibadah sesuai yang telah dicontohkan oleh Beliau bukan melalui tindakan menyentuh, mencium bagian dari ka’bah seperti Batu Hajar Aswad serta Rukun Yamani dan masjid-masjid seperti Masjid Nabawi serta Masjidil Haram

Salah Kaprah 6: Melakukan Shalat 40 rakaat di Masjid Nabawi Madinah
Tidak ada sebuah hadis atau hal yang menyuruh kita wajib menunaikan sholat 40 rakaat di tempat tersebut. Apabila Anda mampu melakukannya, tidak apa-apa dilakukan, karena semakin banyak ibadah yang Anda lakukan maka Insya Allah akan memberikan banyak pahala untuk Anda apabila dijalankan dengan ikhlas karena Allah SWT serta sesuai dengan syariat.

Kalaupun ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa dengan melakukan sholat 40 rakaat di Masjid Nabawi akan terbebas dari api neraka, selamat dari siksaan serta terbebas dari kemunafikan, maka hadis ini dianggap lemah atau dhaif.

Tidak pernah ada batasan berapa jam ataupun hari, jamaah bisa tinggal di masjid tersebut, akan tetapi bila hanya dalam waktu singkat saja bisa mengunjungi Masjid Nabawi maka sholat sebanyak rakaat yang Anda mampu pun tidak apa – apa.

Semoga kita dapat memperbanyak melakukan ibadah selama di tanah suci sesuai dengan tuntunan serta kemampuan kita untuk mendapatkan madhotillah azza wa jalla. Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.

Jika Ingin Menjadi Haji Mabrur, Hindari 10 Larangan ini Saat Berihram

Jika Ingin Menjadi Haji Mabrur, Hindari 10 Larangan ini Saat Berihram

Jika Ingin Menjadi Haji Mabrur, Hindari 10 Larangan ini Saat Berihram – Larangan Haji dan Umroh – Ibadah Haji dan Umroh merupakan salah satu ibadah yang paling istimewa karena memiliki banyak keutamaannya. Akan tetapi untuk menyempurnakan ibadah Haji dan Umroh yang Anda lakukan, Anda perlu mengetahui beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan atau dikerjakan pada saat ibadah Haji dan Umroh berlangsung.

Apa saja larangan-larangan ketika menunaikan ibadah Haji dan Umroh ?

Dalam artikel ini kita akan mengulas mengenai beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan pada saat melaksanakan ibadah Haji dan Umroh. Berikut ini ulasan lebih lengkapnya.

1. Setiap Laki-Laki Tidak Boleh Menggunakan Pakaian yang Memiliki Jahitan
Larangan Haji

Jadi selama Anda melaksanakan ibadah Haji dan Umroh, Anda tidak boleh menggunakan pakaian yang ada jahitannya seperti sorban, baju, celana, topi, bahkan kaos kaki. Namun Anda tetap diperbolehkan untuk menggunakan alas kaki seperti sandal.

Selain itu untuk kaum laki-laki juga tidak diperkenankan untuk menggunakan pakaian yang berwarna selain kain ihram yang digunakan. Ini merupakan salah satu larangan ihram yang harus Anda patuhi.

Ibnu Umar ra berkata seorang sahabat telah bertanya kepada Nabi Muhammad saw.

“Wahai utusan Allah, pakaian apa yang boleh digunakan bagi orang yang berihram “, Beliau menjawab “Tidak boleh menggunakan baju, sorban, celana, topi, dan khuf (sarung kaki yang terbuat dari kulit), kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sandal, maka gunakanlah khuf, namun hendaklah ia memotongnya dari bawah dua mata kakinya dan janganlah kamu menggunakan pakaian yang dicelup dengan pewarna atau warna merah.”

2. Setiap Wanita Tidak Boleh Menutup Wajah dan Kedua Telapak Tangannya
Larangan Umrah

Salah satu larangan yang tidak boleh dilakukan oleh jamaah Haji dan umroh khususnya untuk wanita adalah menutup wajah dan kedua telapak tangannya. Bahkan larangan ini juga berlaku saat ada laki-laki yang berada di sekitarnya.

Sebaiknya kaum wanita boleh menggunakan sarung tangan, namun tidak boleh menutupi bagian telapak tangannya secara langsung. Selain itu kaum wanita tidak diperkenankan untuk menggunakan cadar selama masih menggunakan kain ihram.

Namun kaum wanita masih diperbolehkan untuk menggunakan pakaian yang berwarna maupun pakaian yang dijahit selama pakaian tersebut tidak menutupi kain ihramnya.

Dari Ibnu Umar ra bahwa Nabi Muhammad saw bersabda.

“Janganlah seorang wanita berihram menggunakan cadar dan jangan pula mengenaikan kaos tangan.”

3. Memotong Kuku dan Rambut
Larangan Umroh

Larangan berikutnya yang tidak boleh dilakukan pada saat melaksanakan ibadah Haji dan Umroh adalah memotong kuku dan rambut. Hal ini meliputi jenggot, kumis, dan rambut yang ada di daerah lainnya.

Apabila jamaah menderita sakit maka diperbolehkan untuk memotong rambut atau rambut namun dengan dikenakan fidyah, yakni harus berpuasa jika mampu atau berkurban.

Allah swt berfirman dalam Q.S Al-Baqarah 196 :

“….Dan janganlah kamu mencukur rambut mu sebelum binatang hadyu sampai di lokasi penyembelihannya …”

4. Membunuh atau Memburu Binatang Darat
Larangan Ibadah Haji

Jika Anda melihat binatang apapun ketika sedang melaksanakan Ibadah Haji dan Umroh, sebaiknya Anda tidak menangkap apalagi membunuh binatang tersebut selama Anda masih menggunakan kain ihram. Jika larangan itu dilanggar maka Anda harus membayar denda, yakni memberi makan fakir miskin sebanyak 1 mud (5-6 liter) dalam satu hari.

Allah swt berfirman dalam Q.S Al-Maidah 95 :

“Dan diharamkan atasmu menangkap binatang buruan darat selama kamu dalam keadaan ihram.”

5. Mencabut atau Memotong Tanaman di Tanah Haram
Larangan Saat Haji

Selama Anda masih menggunakan kain ihram, maka dilarang untuk mencabut atau memotong tanaman apapun yang berada di tanah haram, jika Anda melanggar larangan ini maka akan dikenakan denda seperti membunuh binatang.

6. Menikah Atau Menikahkan
Larangan Saat Umroh

Selama Anda menggunakan kain ihram, Anda dilarang untuk menikah ataupun menjadi juru nikah untuk siapa saja. Jika ingin melakukan hal tersebut, maka sebaiknya dilakukan setelah meninggalkan pakaian ihram. Meskipun dalam Al-Qur’an nikah diperbolehkan, namun ini termasuk salah satu hal yang dilarang ketika melaksanakan ibadah Haji dan Umroh.

7. Berduaan dengan Lawan Jenis
Larangan Ibadah Umroh

Ketika melaksanakan ibadah Haji dan Umroh dilarang untuk berduaan atau bermesaraan dengan lawan jenis sekalipun dengan mahromnya sendiri. Jika Anda melakukan hubungan suami isteri pada saat menunaikan ibadah Haji dan Umroh maka Anda harus membayar denda atau dengan menyembelih seekor unta atau sama dengan 7 ekor kambing.

8. Mencaci Maki dan Berkata Kotor
Larangan Haji dan Umroh

Untuk menghindari Anda berkata-kata kotor, sebaiknya Anda memperbanyak berdzikir kepada Allah swt. Sehingga dalam kondisi apapun suasana hati Anda akan tetap tenang sekalipun harus berdesak-desakan dengan jamaah lain ketika sedang melaksanakan ibadah Haji dan Umroh.

9. Memakai Minyak Wangi dan Minyak rambut
Larangan Ketika Haji

Yang dimaksud dengan wangi-wangian disini adalah dengan menggunakan parfum. Namun jika Anda mandi dengan sabun yang memiliki aroma yang harum maka hal tersebut tidak melanggar ihram.

10. Bertengkar atau Berkelahi
Larangan Ketika Umroh

Allah swt berfirman dalam Q.S Al-Baqarah 197 :

“Musim Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan menegrjakan Haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan Haji.”

Itulah beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan selama menjalankan ibadah Haji dan Umroh. Semoga kita semua selalu senantiasa berada di jalan Allah swt. Semoga artikel ini dapat bermanfaat,

Jika Ingin Menjadi Haji Mabrur, Hindari 10 Larangan ini Saat Berihram

Umrah Atau Haji Kecil

Umrah Atau Haji Kecil

Umrah Atau Haji Kecil | UmrohGo

Umrah Atau Haji Kecil – Haji Kecil, itulah sebutan lain untuk ibadah umroh yang banyak disematkan oleh mayoritas ulama, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Amru bin Hazm, yang artinya, “Dan sesungguhnya umroh adalah haji kecil..” (dishahihkan oleh Imam Ahmad dan Al-Uqaili). Sahabat sekaligus sepupu Nabi shallallahu alaihi wa salam, Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma pun berkata, “Umroh adalah haji kecil.” (dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah).

Umroh disebut sebagai haji kecil karena di dalamnya terdapat beberapa ritual serupa dengan ritual yang juga dilaksanakan pada saat pelaksanaan ibadah haji seperti ihram, thawaf, sa’i, dan mencukur sebagian rambut di kepala atau menggundulnya.

Disaat waktu tunggu untuk dapat melaksanakan ibadah haji begitu lama, juga biaya yang dibutuhkan dirasa begitu tinggi maka umroh seakan menjadi opsi yang “terpaksa” diambil oleh sebagian kaum muslimin yang merasa sangsi dapat melaksanakan ibadah haji. Namun demikian perlu kita ketahui dan yakini bersama bahwa ibadah umroh pun memiliki keutamaan yang amat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dimana di antara keutamaan tersebut adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits beliau, yang artinya, “Satu umroh ke umroh yang berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) untuk dosa yang terjadi di antara keduanya..” (dikeluarkan oleh Imam Muslim nomor 1349).

Umrah Atau Haji Kecil

Dan sebagai manusia tentunya kita tidak pernah terlepas dari dosa, maka umroh merupakan satu media emas yang dapat dimanfaatkan oleh seorang muslim untuk menebus segala dosa yang telah ia lakukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Dzat yang menciptakan dirinya, tunduk bersimpuh kepada Allah dihadapan Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat untuk seluruh shalatnya.

Bagi seorang muslim yang berkemampuan umroh hanya wajib sekali dalam seumur hidup, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah..” (Al-Baqarah 196). Adapun Nabi kita terkasih Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka beliau telah melaksanakan ibadah umroh sebanyak empat kali sepanjang usia hidup beliau yang mulia, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah melaksanakan umroh sebanyak empat kali, (yaitu) umroh Hudaibiyyah, umroh Qadha’, umroh ketiga dari Ji’ronah dan (keempat) umroh yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no 816).

Kapankah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Melaksanakan Umrah?

Kesemua umroh tersebut beliau laksanakan pada bulan Dzul Qa’dah, Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melaksanakan umroh setelah berhijrah sebanyak empat kali, kesemuanya di bulan Dzul Qa’dah.” Beliau juga berkata, “Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa umroh yang beliau laksanakan tidak lebih dari empat kali.” (Zadul Ma’ad jilid 2 halaman 90-93).

Adapun mengapa beliau melaksanakan kesemua umroh beliau di bulan Dzul Qa’dah maka Imam an-Nawawi rahimahullah telah menjelaskan alasan dari hal tersebut, “Para Ulama berkata: ‘Tidaklah Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan kesemua umroh tersebut pada bulan yang sama (Dzul Qa’dah) melainkan dikarenakan keutamaan yang dimiliki oleh bulan itu sendiri sekaligus untuk menyelisihi dan menepis keyakinan orang-orang jahiliyyah, yang beranggapan bahwa umroh pada bulan Dzul Qa’dah merupakan perbuatan yang amat sangat tercela maka Nabi sengaja melaksanakan umroh beliau tersebut di bulan Dzul Qa’dah berkali-kali, agar lebih tegas di dalam penjelasan akan bolehnya melaksanakan umroh di bulan Dzul Qa’dah dan agar lebih tegas lagi di dalam pengingkaran beliau terhadap apa yang diyakini oleh orang-orang jahiliyyah tersebut. Wallahu A’lam.” (Syarah Muslim 234/8)

Bagaimana Bila Di Bulan Lain?

Umroh boleh dilaksanakan di bulan apapun dikarenakan keumuman nash yang menyebutkan tentang keutamaan umroh, “Satu umroh ke umroh yang berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) untuk dosa yang terjadi di antara keduanya..” Dikeluarkan oleh Imam Muslim nomor 1349, di dalam hadits ini tidak ada pengkaitan pelaksanaan ibadah umroh dengan waktu atau bulan tertentu berbeda dengan ibadah haji yang pelaksanaanya telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan pada bulan-bulan tertentu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS Al-Baqarah 197)

Dan tidak mengapa pula umroh ini dilaksanakan berulang kali sepanjang tahun, Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani berkata ketika menjelaskan hadits diatas yang juga dimuat di dalam Kitab Shahih Bukhari, “Dan hadits ini menjadi dalil akan dianjurkannya memperbanyak pelaksanaan umroh..” (Fathul Bari 3/598)

Demikianlah tulisan sederhana yang dapat kami suguhkan untuk pembaca sekalian, ‘Di Mana Ada Kemauan Di Situlah Jalan’, begitulah kiranya ungkapan yang cukup mewakili harapan penulis untuk diri kami pribadi dan para pembaca sekalian, jika hari ini kita belum memiliki kemampuan atau gambaran apakah kita bisa pergi ke tanah suci ataukah tidak maka alangkah arif serta bijaksananya jika kita tetap menjaga ‘azzam juga asa yang senantiasa kita gantungkan selalu kepada Allah Dzat tempat kita bergantung, yang akhirnya membuat kita terus menerus melakukan segala upaya dan membuat kita terus menerus memohon dan memelas di dalam setiap pinta kita padaNya untuk bisa disampaikan di rumahNya yang mulia, Baitullahil Haram. Allah Yang Maha Mengijabahi doa para hambaNya berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min: 60)

Wallahu A’lam bish Shawab.

Umrah Atau Haji Kecil

Tata Cara dan Urutan Ibadah Umroh

Tata Cara dan Urutan Ibadah Umroh

Tata Cara dan Urutan Ibadah Umroh – Sebagaimana ibadah sholat yang dimulai dari niat dan diakhiri dengan salam, begitu juga ibadah umroh.

Tata cara dan urutan ibadah umroh dimulai dengan mengambil niat umroh.

Untuk mengambil niat ihram (memulai haji dan umroh) tidak boleh disembarang tempat, harus di tempat-tempat yang disediakan sebagaimana dulu Rosululloh melakukannya.

Berikut ini Miqot-miqot untuk mengambil niat ihram:

1.Bir ali, untuk penduduk Madinah atau yang datang melewatinya.

2. Al Juhafah, bagi penduduk Syam, Mesir, Magribi atau yang melewatinya.

3. Qornul manazil, bagi penduduk Najed, atau orang yang memulai ihram dari sana.

4. Yalamlam, bagi penduduk Yaman atau yang melewatinya.

5. Dzat iqin, adalah miqot untuk penduduk Iraq dan orang yang melewatinya.

Di tempat-tempat tersebut maka jamaah umroh sudah harus memakai pakaian ihramnya dan akan bersama-sam melantunkan niat umroh. Biasanya akan dibimbing oleh pembimbing rombongan umroh (mutawif).

Doa niat umroh adalah sebagai berikut:

Labbaika Allohumma Umrotan

artinya:

Aku memenuhi panggilan-Mu untuk melakukan Umroh

Dalam perjalanan menuju Masjidil haram perbanyaklahlah membaca talbiyah, sebagai bukti kita telah menyambut seruan Alloh untuk menunaikan ibadah haji dan umroh.

Kemudian mulailah berthawaf di Baitulloh dengan mengelilingi kabah selama 7 kali.

Batas awal Thawaf adalah dimulai dari Hajar Aswad yang ditandai dengan lampu berwarna hijau.

Makna Thawaf adalah merasa dilihat Alloh, didengar Alloh dan bersama dengan Alloh dalam setiap keadaan.

Ketika melakukan tawaf jangan berusaha untuk memegang Hajar Aswad, maqam ibrahim atau berfoto-foto karena kita berada dalam rangkaian ibadah umroh. Kalau ingin memegang Hajar Aswad lakukan diluar rangkaian umroh di waktu luang, begitu juga kalau ingin mengambil foto umroh.

Catatan:

Ketika kita ingin mengusap Hajar Aswad akan sangat sulit karena banyak orang yang ingin melakukan hal yang serupa.
Oleh karena itu itu berdoalah kepada Alloh agar dimudah dapat melakukannya dan harus berusaha menjaga kehormatan saudara kita yang muslim lainnya jangan sampai kena sikut dan lain sebagainya karena memegang Hajar aswad adalah sunah sedangkan menjaga kehormatan saudara muslim adalah wajib.

Tentu kita harus memperhatikan yang wajib daripada yang sunah bukan?

Rangkaian umroh berikutnya adalah sai.

Sai dilakukan dari sudut shafa menuju Marwah (dihitung satu kali) dan dari Marwah kembali ke Shafa dihitung satu kali.

Semuanya dihitung tujuh kali putaran, Sai berawal dari Shafa dan akan berakhir di Marwah. Makna sai adalah menjaga diri untuk tidak keluar dari batasan Alloh sebagaimana kisah siti hajar yang ditinggal nabi ibrahim melaksanakan perintah Alloh, walaupun kehausan tetap ingat pesan nabi ibrahim untuk tetap berada di kompleks masjidil haram walaupun apapun yang terjadi.

Di puncak kesulitan, akhirnya muncullah pertolongan Alloh berupa air zamzam yang penuh barokah.

Setelah sai, maka dilakukan tahalul atau memotong sebagian rambut di kepala. Makna tahalul adalah membuang semua pikiran kotor karena semua hal berasal dari pikiran.

Demikian tata cara dan urutan ibadah umroh semoga umroh kita bisa diterima oleh Alloh dan menjadi umroh yang mabrur.

Tata Cara dan Urutan Ibadah Umroh

Tata Cara Ibadah Umroh Lengkap Sesuai Sunnah, Beserta Doa, Bacaan dan Hikmahnya

Tata Cara Ibadah Umroh Lengkap Sesuai Sunnah, Beserta Doa, Bacaan dan Hikmahnya

Tata Cara Ibadah Umroh Lengkap Sesuai Sunnah, Beserta Doa, Bacaan dan Hikmahnya – Setiap muslim harus mengetahui tata cara ibadah umroh lengkap sesuai sunnah, beserta doa, bacaan dan keistimewaannya. Karena tujuan umroh adalah beribadah kepada Allah SWT.
Dream – Berlakunya sistem kuota membuat antrean untuk menjalankan ibadah haji menjadi semakin lama. Karena itu, ibadah umroh menjadi pilihan alternatif bagi mereka yang belum berkesempatan berhaji ke Tanah Suci.

Jika dilihat sekilas, tata cara umroh sedikit berbeda dari ibadah haji. Perbedaan tata cara umroh dari haji adalah pada waktu dan tempat pelaksanaan ibadah.

Dalam tata cara umroh, jamaah melaksanakan beberapa ritual ibadah di kota Mekah, khususnya di Masjidil Haram. Mereka bisa mengerjakan ibadah umroh sewaktu-waktu, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, kecuali waktu-waktu yang dilarang.

Sedangkan untuk ibadah haji, hanya dapat dilaksanakan pada beberapa hari antara tanggal 1 Syawal hingga 13 Dzulhijjah.

Selain itu, ada beberapa perbedaan masalah tempat ketika melakukan ibadah umroh dan haji. Dalam tata cara umroh, tidak ada syariat wukuf dan mabit (tinggal/menetap).

Jadi, dalam tata cara umroh, jamaah tidak perlu pergi ke Arafah, Mina dan Muzdalifah. Sementara untuk jamaah haji, mereka harus mengunjungi ketiga tempat tersebut karena termasuk rukun dan wajib haji.

Dari segi jumlah dan jenis ibadah, juga ada perbedaan. Dalam tata cara umroh hanya melakukan ihram dan niat, thawaf, sai serta tahallul. Yakni jika telah selesai sai maka melakukan tahallul dengan menggunting rambut atau mencukur gundul.

Sementara itu, ibadah haji adalah ibadah umroh (ihram dan niat, thawaf, sai serta tahallul) ditambah dengan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumroh dan mabit di Mina.

Dari segi waktu, pelaksanaan umroh dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari Arafah yaitu tanggal 10 Zulhijjah dan hari-hari Tasyrik yaitu tanggal 11,12,13 Zulhijjah.

Jadi, inti dari proses ibadah haji adalah wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah selepas matahari tergelincir sampai Magrib. Apabila hal itu tidak dilakukan maka seseorang tidak dapat dikatakan sudah berhaji.

Sedangkan tata cara umroh intinya hanya melakukan thawaf dan sai. Keduanya didahului dengan memakai pakaian ihram di miqat (tempat) yang telah ditentukan dan diakhiri dengan tahallul (bercukur).

Setiap muslim harus mengetahui tata cara ibadah umroh lengkap sesuai sunnah, beserta doa, bacaan dan keistimewaannya. Karena tujuan umroh adalah beribadah kepada Allah dengan mengikuti syarat dan rukun tertentu.

Seperti halnya sholat yang dimulai dengan niat dan diakhiri dengan salam, rangkaian tata cara umroh juga diawali dengan berihram (niat umroh) dan diakhiri dengan bertahallul (mencukur sebagian rambut).

Tata cara ibadah umroh lengkap sesuai sunnah, beserta doa, bacaan dan keistimewaannya
Tata cara pelaksanaan umroh
Tata cara pelaksanaan umroh dimulai dengan membaca niat dan memakai pakaian ihram dari miqat-miqat yang telah ditentukan. Miqat adalah garis start seorang jamaah yang hendak melakukan ibadah umroh.

Dengan kata lain miqat adalah tempat berihram (niat umroh) dan masuknya seseorang ke dalam pelaksanaan umroh yang akan dilakukan.

1. Dari bandara menuju miqat Masjid Dzulhulaifah atau lebih dikenal Abyar ‘Ali.
Di miqat yang terletak di Madinah ini, para jamaah melakukan persiapan sebelum ihram, mulai dengan mandi, mengenakan pakaian ihram, berwudhu dan mengerjakan sholat sunnah ihram 2 rakaat.

Setelah itu niat mengerjakan ibadah umroh dengan membaca bacaan niat umroh yaitu Labbaikallahumma ‘umratan. Yang artinya ‘Aku sambut panggilanMu ya Allah untuk menjalankan umroh’.

2. Setelah mengenakan pakaian ihram, seorang jamaah umroh dilarang untuk melakukan hal-hal yang sudah ditentukan syariat.
Bagi pria, dilarang:

memakai pakaian biasa
memakai alas kaki yang menutupi mata kaki
menutup kepala dengan peci, topi, dan sebagainya
Bagi wanita, dilarang:

memakai kaos tangan
menutup muka
Bagi pria dan wanita, dilarang:

memakai wangi-wangian
memotong kuku, mencukur atau mencabut rambut/bulu
memburu atau mematikan binatang apa pun
menikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi
bermesraan atau berhubungan intim
mencaci, bertengkar atau mengeluarkan kata-kata kotor
memotong tanaman di sekitar Mekah
3. Menuju Masjidil Haram di Mekah
Dalam perjalanan, memperbanyak bacaan kalimat talbiyah yang selalu diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika umroh dan haji.

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK. LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK. INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULK LAA SYARIKA LAK

Artinya:

” Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”

Akhir waktu membaca talbiyah untuk umroh adalah saat akan memulai thawaf.

4. Melakukan thawaf.
Sebelum masuk Masjidil Haram, jamaah dianjurkan berwudhu terlebih dahulu. Jamaah boleh masuk Masjidil Haram lewat pintu mana saja, tapi dianjurkan mengikuti contoh Rasulullah SAW yang masuk melalui pintu Babus Salam atau Bani Syaibah.

Saat masuk Masjidil Haram, disarankan untuk mengucap doa BISMILLAH WASH SHOLATU WAS SALAMU ‘ALA RASULULLAH. ALLAHUMMAFTAHLI ABWABA RAHMATIKA

Artinya: Dengan nama Allah, shalawat dan salam untuk Rasulullah. Ya Allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.

Setelah itu turun dan terus menuju tempat thawaf (mataf). Jamaah mulai thawaf dari garis lurus (area dekat Hajar Aswad) antara pintu Kabah dan tanda lampu hijau di lantai atas Masjidil Haram.

Di sini jamaah diberi pilihan antara lain:

Taqbil yaitu mencium Hajar Aswad
Istilam dan Taqbil yaitu mengusap, meraba, dan mencium Hajar Aswad
Istilam yaitu mengusap Hajar Aswad dengan tangan atau sesuatu benda yang kita pegang, kemudian benda tersebut dicium, atau
Melambaikan tangan atau benda yang kita pegang 3 kali, tidak dicium tapi mengucapkan Bismillah, Allahu Akbar (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar)
Salah satu pilihan ritual ini dilakukan setiap kali melewati Hajar Aswad dan Rukun Yamani pada putaran satu sampai tujuh. Jika tidak mampu mencium Hajar Aswad dan Rukun Yamani karena alasan keamanan akibat banyaknya jamaah yang umroh, maka bisa memilih istilam dengan tangan atau benda, atau hanya melambaikan tangan atau benda yang kita pegang.

Pada putaran 1-3 jamaah pria dianjurkan untuk lari-lari kecil. Sedangkan pada putaran 4-7 dengan jalan biasa. Sementara untuk tata cara umroh wanita tidak ada lari-lari kecil saat melakukan thawaf.

Sepanjang thawaf, membaca doa saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Doa saat thawaf yang selalu dibaca oleh Rasulullah SAW adalah doa sapu jagad, yaitu:

RABBANA ATINA FIDDUNYA HASANATAN WA FIL AKHIRATI HASANATA WA QINA ‘ADZABANAR

Artinya:

” Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

5. Sholat 2 rakaat di depan Maqom Ibrahim
Maqom Ibrahim bukanlah kuburan dan tidak pula tempat yang terkait dengan kuburan lain. Namun di tempat itu Nabi Ibrahim pernah berdiri dalam rangka membangun Kabah. Rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al-Kaafiruun. Rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al-Ikhlas.

6. Beristirahat sejenak dan minum air zam-zam.
Sebelum minum air zam-zam, membaca doa:

ALLAHUMMA INNI ASALUKA ‘ILMAN NAFI’AN WA RISQON WAASI’AN WA SYIFAA’AN MIN KULLI DAA’IN WA SAQOMIN BI ROMHATIKA YA ARHAMAR ROHIMIIN

Artinya:

” Ya Allah, aku mohon padaMu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan kesembuhan dari segala penyakit.”

7. Melakukan sai antara Safa dan Marwah 7 kali bolak balik.
Sai dimulai dari Safa ke Marwah yang dihitung sebagai satu kali perjalanan. Jadi, Safa ke Marwah 1, Marwah ke Safa 2, dan seterusnya. Sai berakhir di Marwah. Sai dikerjakan dengan berjalan, tapi pada batas di antara 2 lampu hijau, berlari-lari kecil.

Sai ini merupakan penghargaan Allah SWT kepada istri Nabi Ibrahim. Saat itu istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar, bolak-balik antara Safa dan Marwah sebanyak 7 kali dalam rangka mencari air untuk minum putra beliau yaitu Nabi Ismail.

8. Melakukan tahallul
Tahallul adalah akhir dari pelaksanaan ibadah umroh yang ditandai dengan bercukur. Untuk laki-laki lebih baik dicukur sampai gundul, tapi jika tidak sampai gundul tak mengapa. Sedangkan untuk tata cara umroh wanita hanya dicukur ala kadarnya.

Dengan melakukan tahallul, maka sudah sempurna tata cara ibadah umroh lengkap sesuai sunnah.

2 dari 2 halaman
Keistimewaan ibadah umroh
Meski bukan yang utama, ibadah umroh tak kalah istimewanya dengan haji. Agar lebih memahami, berikut Dream berikan ulasan mengenai 6 keistimewaan ibadah umroh.

1. Ibadah umroh yang satu kepada umroh berikutnya adalah Kaffaroh atau penghapus dosa
Allah SWT akan menghapus dosa-dosa kita di antara pelaksanaan umroh yang satu dengan umroh berikutnya. Sederhananya begini, bila 5 atau 10 tahun lalu kita sudah melaksanakan umroh, tahun berikutnya berkesempatan untuk melakukan umroh, maka dosa-dosa di antara kedua waktu umroh tersebut akan diampuni Allah SWT.

2. Umroh adalah jihad bagi para wanita dan orang yang lemah
Para ibu dan kaum wanita umumnya serta mereka yang lemah fisik pada masa Rasulullah SAW, tak bisa ikut berjihad atau berperang. Namun mereka masih mendapatkan fadillah pahala jihad dengan cara melaksanakan ibadah umroh.

3. Jemaah umroh adalah tamu-tamu Allah yang doanya dikabulkan
Ibadah haji dan umroh menjadi istimewa karena orang yang datang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah tersebut adalah tamu Allah SWT. Begitulah biasa disebut dan memang Rasulullah SAW menyebutkannya demikian. Jemaah haji dan umroh adalah tamu undangan Allah SWT sehingga apa yang diminta sang tamu akan dikabulkan oleh-Nya. Ini adalah bentuk keistimewaan yang paling istimewa.

4. Wafat saat menjalankan ibadah umroh pahalanya dicatat sampai hari kiamat
Keutamaan orang-orang yang wafat dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh, serta keutamaan orang yang wafat dalam keadaan berihram (di tengah pelaksanaan ibadah haji dan umroh) adalah mendapatkan anugerah pahalanya dicatat sampai hari kiamat. Semuanya termaktub jelas dalam hadits.

5. Ibadah umroh bisa menghilangkan kefakiran
Bila kita melihat saudara kita yang setelah pulang dari haji atau umroh maka terlihat kehidupannya semakin baik, rezekinya mengalir terus dan keluarganya bertambah berkah, itulah salah satu fadillah ibadah tersebut. Seluruh biaya yang digunakan untuk berangkat haji dan umroh akan diganti oleh Allah SWT dengan berlipat-lipat.

6. Fadillah pahala satu kali umroh dengan sholat dua rakaat di Masjid Quba
Sholat di Masjid Quba memiliki keutamaan tersendiri. Menurut Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif RA, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ” Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia sholat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umroh.” (HR. Tirmizi no. 298, Ibnu Majah no. 1401)

Masjid Quba ini terletak di luar kota Madinah. Jadi, mengingat fadillah sholat di Masjid Quba yang sangat besar, maka bila kita sudah berada di Madinah dalam rangka menjalankan ibadah umroh atau haji, jangan sampai lupa melakukan sholat di Masjid Quba.

https://www.dream.co.id/your-story/tata-cara-umroh-181122z.html